Cermat Membeli

Lima Penilaian Pihak Bank pada Calon Peminjam

Lima Penilaian Pihak Bank pada Calon Peminjam – Berikut lima penilaian dari pihak bank kepada calon peminjam yaitu sebagai berikut :

1. Character

Semua orang tahu akan pentingnya karakter. Hal ini jugalah yang pertama kali dinilai oleh pihak bank. Apakah peminjam termasuk calon debitur yang bisa dipercaya atau tidak? Biasanya mereka melakukan penilaian ketika mewawancarai peminjam. Jika peminjam diketahui berbohong data yang diserahkan ternyata tidak sesuai dengan kenyataan, maka peminjam akan dinilai tidak layak dipercaya untuk mengelola uang mereka.

Selain dengan cara itu, mereka juga memeriksa catatan sejarah kredit peminjam. Jika peminjam punya tunggakan Rp 100 ribu saja dalam tagihan kartu kredit, hal itu akan berakibat fatal. Pencairan kredit bisa tertunda walaupun angka kreditnya jauh lebih besar, misalnya hingga Rp 5 miliar. Bayangkan jika hanya mempunyai tunggakan sebesar Rp 100 ribu bisa menghambat Rp 5 miliar.

Bahkan, tunggakan biaya materai sebesar Rp 6.000 yang tercatat di Bank Indonesia juga bisa menunda pencairan tersebut. Pihak bank bisa memeriksa data historis pinjaman melalui Sistem Informasi Debitur (SID). Seluruh data pinjaman, baik itu kartu kredit, KTA, leasing, maupun KPR, akan terdeteksi dengan mudah. Itulah sebabnya peminjam perlu menjaga reputasi di mata bank.

2. Capacity

Peminjam harus bisa menyeimbangkan kemampuan membayar cicilan dengan jumlah pinjaman kredit yang diajukan. Kalau kemampuan peminjam hanya Rp 5 juta, tetapi mengajukan kredit dengan cicilan Rp 10 juta per bulan, bank pasti akan menolak pengajuan kredit tersebut. Sebaliknya, jika sesuai dengan penilaian bank maka pengajuan berpeluang besar disetujui.

3. Capital

Salah satu aturan bank menyebutkan bahwa untuk membeli properti, setiap debitur harus menyediakan dana untuk down payment (DP) minimal 20 persen. Kenapa demikian? Karena maksimal kredit yang akan dicairkan biasanya adalah 80 persen dari hasil penilaian harga properti yang akan dibeli.

Jadi, sebenarnya dana sebesar 20 persen itu harus disediakan sendiri. Namun, penilaian yang satu ini tidak terlalu relevan jika mengajukan pinjaman kredit untuk properti yang harga jualnya jauh di bawah harga pasar.

4. Collateral

Bank sangat hati-hati dalam mengucurkan kredit. Mereka juga akan menilai aset yang akan digunakan. Jika nilai aset tersebut lebih rendah dari 80 persen angka kredit, jumlah pinjaman kredit yang diajukan pasti ditolak. Sekalipun disetujui, nilai pinjamannya akan jauh lebih kecil dari yang akan diajukan.

Patokan 80 persen didasarkan pada asumsi bahwa jika kredit bermasalah, aset itu akan lebih mudah terjual. Sebagai contoh, jika aset properti yang akan diagunkan hanya senilai Rp 1,5 miliar, sedangkan kredit yang diajukan adalah Rp 2 miliar, pengajuan kredit pasti akan ditolak. Peminjam harus bisa memperkirakan nilai aset yang akan dibeli. Jika tidak, peminjam hanya akan membuang-buang waktu saja.

5. Condition

Selain agunan, bank juga melihat jaminan yang akan diberikan. Kredit Tanpa Agunan (KTA) menggunakan prinsip ini. Orang awam seringkali menganggap agunan sama dengan jaminan, padahal tidak. Agunan biasanya berupa barang atau aset, sedangkan jaminan adalah usaha atau pekerjaan yang dapat menjamin kelangsungan pembayaran cicilan sampai pinjaman lunas.

Misalnya, jika pengusaha, bank akan menilai bisnis tersebut apakah prospek ataukah tidak, sudah berapa lama usaha berjalan, apakah usaha stabil, dan sebagainya. Kalau seorang karyawan maka bank akan menilai masa kerja kredibilitas kantor tersebut.

Selain itu, dalam penilaian ini, situasi ekonomi dan tingkat likuiditas perbankan secara nasional biasanya juga turut dipertimbangkan. Jika situasi ekonomi sedang krisis dan likuditas ketat, pengajuan kredit mungkin saja tertunda atau tidak disetujui sama sekali.

Demikian info tentangĀ Lima Penilaian Pihak Bank pada Calon Peminjam semoga bermanfaat.

Sumber: Sukses Membeli Tanah Tanpa Modal, Supriyadi Ami

Join The Discussion