Aset Kekayaan

Perhatikan Tata Ruang Kota Sebelum Membeli Tanah

Perhatikan Tata Ruang Kota Sebelum Membeli Tanah – Untuk mengetahui apakah lokasi tersebut layak dan cocok untuk dimiliki, setidaknya ada beberapa kriteria yang dijadikan sebagai acuan. Pertama, lokasi atau tempat tersebut diketahui dan mudah untuk diakses banyak orang. Kdeua, lokasi yang akan dibeli merupakan kawasan yang banyak diminati orang untuk dijadikan tempat tinggal atau berbisnis.

Namun, tidaklah cukup jika hanya dengan dua kriteria tersebut. menentukan lokasi tanah yang tepat patut pula memerhatikan regulasi tata ruang kota yang berada di wilayah tersebut. Perencanaan tata ruang kota atau biasa disebut Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) kabupaten / kota, banyak memuat aturan-aturan dan ketentuan (zoning) bagi penggunaan tanah, juga rencana bangunan ataupun pengembangan bangunan di atas tanah tersebut.

Dalam ketentuan RTRW yang berlaku umumnya memuat notasi seperti berikut.

  • Peruntukkan wisma,
  • Koefisien Dasar Bangunan (KDB) 70%, Koefisien Luas Bangunan (KLB) 2, dan
  • Ketinggian maksimum 4 lantai/lapis.

Apabila diterjemahkan dari notasi tersebut, penjelasanya adalah sebagai berikut.

Bahwa di atas tanah yang disebutkan tersebut hanya diperuntukkan untuk jenis tempat tinggal (wisma). Penggunaan untuk bisnis (niaga) tidak diizinkan, kecuali dengan persyaratan dan denda tertentu.

KDB adalah 70%, artinya jika lahan tersebut memiliki luas 400 m2 maka luas tapak (site) rumah yang diizinkan untuk dibangun adalah = 70% x 400 m2= 280 m2. Selebihnya, sebesar 120 m2 di peruntukkan bagi ruang terbuka atau taman.

Sementara itu, KLB sebesar 2 (dari skala 1 hingga 6), maksudnya luas rumah tersebut dapat mencapai 2 x 280 m2 (luas KDB)= 560 m2. Dalam hal ini juga dapat dikembangkan dengan maksimal ketinggian tidak boleh lebih dari 4 lantai / lapis.

Bagi lahan yang direncanakan untuk dibangun properti komersial, misalnya ruko, rukan, apartemen, dan hotel, notasi rencana tata kota ini menjadi perhatian yang serius. Hal ini disebabkan notasi yang bersangkutan dapat dijadikan dasar perhitungan tingkat pengembalian modal investasi yang telah ditanamkan untuk pembangunannya beserta tingkat keuntungannya.

Artinya, semakin besar luas bangunan (m2) yang dapat dibangun maka akan semakin besar pula peluang keuntungan yang akan didapat. Namun sebaliknya, semakin kecil dan terbatas bangunan yang boleh dibangun maka semakin kecil pula keuntungan yang akan didapat.

Hal lain yang berkenaan dengan tanah adalah keberadaan jalan utama atau akses jalan tol. Banyak anggapan dari pebisnis, bahwa semakin dekat lahan / tanah tersebut ke jalan utama atau jalan tol maka akan semakin menarik dan semakin tinggi pula nilai ekonomisnya.

Sebaliknya, untuk tanah yang jauh dari jalan utama atau jalan tol, nilai ekonomisnya akan relatif rendah. Hal ini disebabkan akses orang dan kendaraan akan mengalami kesulitan dari dan menuju lokasi tersebut.

Beberapa contoh kawasan perumahan dengan lokasi seperti ini terdapat di Bandung, di antaranya Perumahan Batununggal, Mekarwangi, ataupun Kota Baru Parahyangan. Perumahan-perumahan tersebut memiliki jarak akses ke jalan tol hanya membutuhkan beberapa menit saja. Pada saat kawasan tersebut dibangun sampai tahun 2012, harga kenaikannya sangat fantastis.

Demikian info tentangĀ Perhatikan Tata Ruang Kota Sebelum Membeli Tanah semoga bermanfaat.

Sumber: Sukses Membeli Tanah Tanpa Modal, Supriyadi Amir

Join The Discussion